Elusion #2 Rennes – Dinan

27 Juni 2016

Paris – Rennes

Suhu Paris pagi itu lebih rendah dari kemarin. Penasaran, gue mengintip keluar jendela. Benar saja, di luar hujan. Meski menghadirkan sedikit kesenduan, rintik-rintik air tidak mengurungkan niat gue untuk melanjutkan perjalanan ke Rennes. Sebaliknya, gue merasa agak girang karena hujan. I kinda love rain.

Gue punya janji temu dengan pengemudi blablacar pukul 7 pagi di stasiun metro Porte de Châtillon. Namanya, Om Bernard. Gue sebut om karena beliau sudah uzur; usianya 69 tahun. Si Om tiba tepat waktu di dekat pintu keluar stasiun metro Porte de Châtillon. Gue pun menghampiri mobilnya. Semoga ga salah, pikir gue. Mobil Om Bernard berwarna biru kusam, berukuran sedang, dan dapat memuat empat orang (atau paling banyak lima, jika dipaksa berdesakan di kursi belakang).

“Bonjour! T’es Harvin? (Selamat pagi! Apakah kamu Harvin?),” sapa ramah Om Bernard.

“Oui, je suis Harvin. Vouz-etez Bernard? (Ya, saya Harvin. Apakah Anda Bernard?)”

“Oui. Allez! (Yes. Let’s go!)”

Om Bernard berkacamata, senyumnya ramah khas bapak-bapak. Meskipun usianya sudah 69 tahun, wajahnya terlihat lebih muda 5 tahun. Ternyata, selain gue, ada dua penumpang lain yang akan ikut ke Rennes: Victor dan Nicole. Mereka adalah dua orang kakak adik yang berkuliah di Rennes.

Perjalanan ke Rennes memakan waktu sekitar 3,5 jam, melewati jalan tol panjang antarkota. Kami berhenti sekali di area peristirahatan untuk pergi ke toilet dan membeli kudapan. Om Bernard menyempatkan mengisi bahan bakar mobilnya. Selama perjalanan, kami sedikit banyak mengobrol, bercerita tentang diri masing-masing. Si om, sayangnya, tidak pandai berbahasa Inggris. Ini hal yang umum ditemukan di Prancis. Meskipun Prancis tidak jauh dari Inggris, penduduknya tidak sedikit yang hanya bisa berbahasa ibunya. Gue berkomunikasi dengan bahasa Prancis pas-pasan dan terkadang dibantu Victor dan Nicole dengan terjemahan sekadarnya.

Om Bernard sering bolak-balik Paris-Rennes karena anaknya kuliah di Rennes. Berhubung biaya perjalanan seorang diri cukup tinggi, beliau memilih bergabung di blablacar demi “membagi” biaya perjalanan tersebut dengan para penumpang satu tujuan. Ada pula yang menjadikan blablacar sebagai mata pencahariannya. Menurut gue, blablacar ini sangat membantu dan menguntungkan, baik untuk pengemudi dan/atau pemilik mobil, maupun penumpang (seperti gue). Kita dapat menghemat biaya transportasi selama jalan-jalan di Eropa/keliling Eropa.

Perjalanan kami ditemani ladang gandum berhektar-hektar di pinggir jalan tol. Warnanya sudah mulai menguning yang berarti siap dipanen. Satu jam sebelum tiba di Rennes, awan sudah mulai menyingkir dengan malas, membuka tabir surya yang turun malu-malu di langit musim panas. Rennes merupakan ibukota Britanny, sebuah daerah di barat laut Prancis. Gue memilih Rennes sebagai “basecamp” untuk pergi ke dua tujuan utama gue di Britanny: Dinan dan Mont Saint Michel. Suhu udara Rennes kala itu sangat nyaman untuk manusia tropis macam gue yang berkisar antara 20-22 derajat celcius. Sempurna untuk jalan-jalan.

Kebersamaan singkat bersama Om Bernard, Victor, dan Nicole harus berakhir saat kami tiba di Gare de Rennes (Stasiun Rennes), yang merupakan titik drop-off kami. Om Bernard tidak lupa memberikan salam perpisahan hangatnya. Di stasiun Rennes, tersedia tiket bus ke beberapa destinasi. Tiket pulang pergi Rennes-Dinan dipatok sebesar 9,6 EUR; masih masuk akal. Armada bus antarkota bertanggar di Gare Routiere yang terletak di sebelah stasiun Rennes. Perusahaan bus yang gue pakai adalah ILLENOO BUS. Sebelum berangkat, gue membeli bekal makan siang roti baguette berisi ayam dan tomat. Pada saat bersamaan, gue sangat merindukan nasi padang dengan ayam gulai, rendang daging, dan paru. Porsi makanan di sini cukup besar dan dapat dimakan dua kali. 

Rennes – Dinan

Kok bisa tiba-tiba ke Dinan? Ada apa sih di Dinan? Mayoritas teman gue yang pernah ke Prancis tidak berpikir untuk mengunjungi kota ini dan langsung menuju Le Mont Saint Michel. Penemuan tentang keberadaan Dinan sebenarnya terjadi secara spontan. Rencana awal gue adalah berkeliling kota Rennes sampai sore dan bertemu teman host couchsurfing, Frederic. Hal itu berubah ketika gue melihat betapa kota Dinan sangat disanjung-sanjung dalam beberapa ulasan situs perjalanan. Karena lokasinya tidak telalu jauh dari Rennes, gue memutuskan singgah di Dinan. Rencana yang bagus sembari menghabiskan waktu sebelum bertemu Frederic, pikir gue.

Jarak Rennes-Dinan dapat ditempuh dalam waktu satu jam dua puluh menit. Penumpang disuguhkan pemandangan rumah-rumah khas Britanny berwarna pastel dan kebanyakan memiliki pondasi berukuran persegi panjang. Cerobong asap kotak di ujung genteng menghiasi jejeran rumah cantik bergaya medieval itu. Kami disambut oleh jembatan batu tinggi berwarna abu-abu yang membelah sungai La Rance. Aliran sungai La Rance berakhir di lautan utara Prancis. Di tepi sungai, beberapa kapal berukuran kecil tertata cantik. Langit Dinan kala itu benar-benar menakjubkan: biru muda dengan gradasi putih lembut sinar mentari di sela-selanya. Awan-awan seperti digores oleh kuas Sang Pencipta di kanvas udara. Nampaknya, Dinan sudah siap menyambut turis-turis yang berkunjung hari itu.

Kota Dinan tidak terlalu besar. Situs-situs bersejarahnya dapat dijelajahi dalam waktu setengah hari dengan berjalan kaki karena letaknya terpusat di tengah kota. Beberapa situs yang dapat dikunjungi antara lain: Château de Dinan (benteng di sudut selatan kota Dinan) dan Basilique Saint-Sauveur de Dinan (gereja tua dari abad ke-12 bergaya Roman dan Gothic). Kita juga bisa mampir di Rue du L’apport. Jalanan berbatu ini dipenuhi dengan toko-toko yang ditempati beberapa seniman lokal yang menjajakan hasil karyanya. Banyak sekali barang dagangan kerajinan yang orisinil dan unik.

Rumah khas Dinan dapat ditemui di sini. Lantai dua yang menjorok ke jalanan dan ditopang pilar kayu merupakan ciri khasnya. Bunga-bunga musim semi juga menghiasi balkon lantai dua rumah penduduk sekitar dan menambah suasana jalanan itu makin hidup.

Gue tertarik mampir di toko yang menjual ikan makerel kalengan. Produk bahari yang paling umum di Brittany adalah Makerel. Tidak lupa, gue mencoba sample yang ditawarkan si Mba penjual ikan tersebut. Rasanya enak!

Eksplorasi kota Dinan gue akhiri dengan melamun di pinggir bukit yang menghadap sungai La Rance dan Port de Dinan. Pemandangan langit biru dan kapal yang terayun-ayun pelan menemani gue terhanyut dalam pemikiran liar tentang kehidupan. Ini tempat yang sempurna melupakan rasa sakit kehidupan dan sejenak mengenali diri sendiri lagi.

Tidak terasa 4 jam sudah gue menikmati kota Dinan, saatnya kembali ke Rennes. Dalam perjalanan kembali ke Rennes, radio bus menyiarkan pertandingan Italia dan Spanyol di Euro 2016. Penumpang bus cukup antusias mencari tahu siapa calon lawan tim negaranya di pertandingan berikutnya. Di kota Rennes, gue janjian dengan Frederic di salah satu perhentian bus kota. Frederic adalah seorang pemuda Prancis yang antusias dan riang. Gue berkenalan cepat dengannya dan kami setuju untuk jalan-jalan kecil di kota Rennes. Kami mampir di Cathedral Saint-Pierre de Rennes dan Palais Saint-Georges, dua situs paling ciamik di kota Rennes. Mata gue tidak pernah bosan melihat bangunan megah berumur ratusan tahun. Langit di kota Rennes masih begitu cantik dan cerah pada pukul 18.00. Hujan tadi pagi tergantikan terangnya senja di Rennes. Rennes sepertinya menyambut gue hangat hari ini.

Rumah Frederic tidak terlalu jauh dari pusat kota; sekitar 20 menit berjalan kaki. Frederic rupanya petualang ulung; dia telah menjelajahi puluhan negara, termasuk Indonesia. Cerita Frederic memantik api petualangan dalam diri gue. Mampukah… akankah gue berkeliling dunia seperti Frederic? tanya gue pada diri sendiri. Setelah bertukar cerita, gue istirahat di ruang tamu dengan sleeping bag. Ya, demi menghemat 20 Euro per malam, sleeping bag terasa sangat nyaman kala itu. Kaki gue yang mulai nyeri butuh istirahat setelah diperbudak oleh tuannya.

­Edited by: Karhandache

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *