Menelusuri Vietnam & Cambodia 6 Hari 5 Malam (Saigon – Phnom Penh – Siem Reap)

Rencana jalan ke Ho Chi Minh, yang mempunyai nama lain Saigon, ini sebelumnya gue rencanakan bersama teman gue. Namun, karena tanggalnya bentrok dengan tanggal teman gue dipingit, jadilah gue pergi sendiri. Ha ha ha. Awalnya gue pesan tiket pesawat pulang-pergi Jakarta – Saigon seharga Rp 1.100.000,- (selama 6 hari disana) dengan rute awal: Jakarta – KL – Saigon – KL – Jakarta dengan pesawat Airasia. Setelah gue baca-baca blog orang lain, menghabiskan 6 hari di Saigon ini terlalu lama dan lebih baik menambah ke kota lainnya. Jadi lah gue menambah rute perjalanan ke Kamboja (Phnom Penh dan Siem Reap). Jarak antara Saigon – Phnom Penh dan Phnom Penh – Siem Reap masing-masing dapat ditempuh dalam waktu 6 jam dengan menggunakan bus.

Setelah menentukan rute yang lebih variatif, gue membeli tiket pesawat balik langsung dari Siem Reap ke Kuala Lumpur untuk menghemat waktu. Rute yang akhirnya gue pakai: Jakarta – KL – Saigon (Pesawat), Saigon – Phnom Penh – Siem Reap (Bus), dan Siem Reap – KL – Jakarta (Pesawat).

22.000 Vietnam Dong = 1 USD

Saigon/Ho Chi Minh

Hari ke-1 (22 September 2016)

Gue tiba di Saigon pukul 11.00 pagi. Sebelum gue keluar bandara, gue menukar USD di bandara. Katanya, rate USD di bandara yang paling bagus daripada di kota.Setelah itu, gue langsung mencari moda transportasi untuk ke hostel. Gue naik bus nomor 109 dari bandara ke Pham Ngu Lao Street (kandangnya para backpacker). Lengkap dah pokoknya fasilitas di sini! Hostel, penyedia jasa wisata (agen tiket bus dan wisata lainnya), restoran (dari yang mewah hingga yang ada di pinggir got jalan), dan toko-toko bertebaran dimana-mana. Di Pham Ngu Lao street, juga ada taman yang sangat rindang. Asik banget buat jalan santai di sore hari.

Airport Bus to Pham Ngu Lao st.

Gue menginap di hostel New Saigon Hostel. Recommended banget! Tempatnya strategis karena terletak di Bui Vien Street (tinggal ngesot dari Pham Ngu Lao Street). Suasananya juga “pewe” abis! 1 kamar bisa diisi 6 orang dan ada beberapa fasilitas yang bikin tambah betah: AC, W-Fi kencang, dan sarapan. Harganya? Semalam cuma 7 dollar USD!

Setelah beres-beres perangkat sholat travel, gue langsung cus jalan-jalan sore mengitari kota Saigon ini. Karena gue belum makan siang dan rasanya lapar banget, gue memutuskan untuk makan signature dish dari Vietnam. Yap~ apalagi kalau bukan Spring Rolls berisi udang segar, soun, dan sayuran. Gue mencari rumah makan halal yang terkenal di Saigon, namanya Hj. Basiroh (terletak di Nguyen Ann Hai Street dekat dengan Ben Thanh Market). Harga 1 porsi spring rolls:100.000 VND. Jir, mahal ya, lumpia doang 100 ribu. Eh, tapi jangan sedih. Nominal mata uang vietnam memang lebih besar dari rupiah (hampir 2 kali lipatnya, contohnya: Rp 13.000,- = 22.000 VND). Ya, mahal juga si ujungnya, harganya setara 50.000 rupiah. Ha ha ha. Hitung-hitung, buat pengalaman. Rasa lumpianya ya begitu~ Enggak terlalu gurih karena isinya murni sayuran, soun dan udang rebus. Rasanya kayak lalapan dicampur udang kali ye. Ha ha. Wajib dicoba ya pokoknya!

Jalan-jalan di Saigon ini gampang banget. Semua atraksi turis dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau lagi capek, bisa banget pake Grab~ Rute yang gue tempuh untuk sore ini adalah:

  • Ho Chi Minh statue, disini enak banget jalan santai karena terletak di plaza yang luas dengan pepohonan rindang di sekitarnya. Banyak sekali turis dan warga lokal yang menghabiskan waktu sore disini dengan santai.
  • Notre Dame Cathedral, gereja bergaya Prancis bewarna merah bata ini letaknya cukup dekat dengan patung HCM. Daerah sekitar gereja ini asik banget buat jalan-jalan sore!
  • Saigon Central Post Office, boleh ni kalau kirim2 barang dagangan disini karena selain objek wisata, kantor pos ini sepenuhnya beroperasi melayani jasa pengiriman ke dalam dan luar negeri. Desain arsitektur bergaya lama nya bikin kita berasa kembali ke abad 19.

Malam harinya, gue mencoba bergabung ke acara couchsurfing di sebuah kafe. Tajuk meetup kali itu adalah belajar bahasa vietnam. Gue datang ke kafe sekitar pukul 7 malam. Kafenya tidak terlalu besar namun nyaman untuk mengobrol. Gue disambut sama panitia acara yang sudah siap disana dan memberikan gue pita untuk diikatkan di tangan yang menandakan kalau gue bukan warga lokal disana. Acaranya juga seru abis! Mereka memperkenalkan budaya dan bahasa Vietnam ke turis-turis asing (ya gue termasuk meskipun muka gue mirip2 sama mereka hehe). Gue diajarkan sama Pham (jadi sistemnya 1 warga lokal mengajar 1 orang asing). Setelah beberapa lama mengikuti cara bicara bahasa Vietnamese, lama-lama puyeng juga ya. Bahasa mereka memiliki ragam nada yang banyak! Kalau di mandarin ada 4 nada, bahasa vietnamese memiliki 6 nada! I was really happy anyway that time. I managed to meet locals and was taught basic vietnamese properly in my first night there. Semoga bisa gue pakai di hari-hari berikutnya! setelah puas belajar bahasa Vietnamese, gue dan beberapa expats dan warga lokal makan malam Pho di Bui Vien Street. Waktu itu, gue makan bareng Anh (warga lokal), Jin Cong (expat dari Singapore), dan Minami (expat dari Jepang). That wrapped my first day in Ho Chi Minh!

Hari ke-2 (23 September 2016)

Keesokan harinya, gue pergi ke War Remnant Museum untuk setengah hari pertama. Sebenarnya untuk menuju kesana, lumayan dekat dan bisa jalan kaki. Cuman karena gue harus sudah siap-siap jam 1 siang  di hostel untuk tur ke Cu Chi Tunnels, gue putuskan untuk nyobain Grab-bike hahaha. Ternyata cukup mudah dan gue sampai dalam 10 menit. Di museum ini kalian bisa melihat dokumentasi sejarah perang Amerika dan Vietnam. Get ready for some seriously horrible stories and pictures here! Buat gue yang buta sama sekali soal perang ini, museum ini bisa memberikan informasi yang cukup detail. Yang cukup memilukan buat gue ya cerita soal Agent Orange (senjata kimia yang dipakai Amerika Serikat). Dan ada dokumentasi orang-orang yang terkena senjata ini. Untuk detail silahkan ya datang ke museum ini! Wajib!

Setelah dari war remnant museum, gue berencana ke Reunification Palace yang jaraknya deket dari sini, tapi tutupppp sialll. ternyata palace ini tutup dari jam 11 sampai 1 siang. karena gue harus sudah balik ke hostel jam 1 siang, gue harus melewatkan kunjungan kali ini ke
Reunification Palace .

Untuk menghabiskan waktu sampe nanti jam 1 siang, gue jalan-jalan sekitar Ben Thanh Market yang lokasinya ga jauh dari hostel gue. disana gue belanja souvenir khas vietnam dan kopi bubuk yang katanya terkenal. harganya 100.000 VND untuk beberapa ratus gram (gue lupa berapa hehe). gue sekalian makan siang  Banh Mi (sejenis roti isi daging dan sayuran) yang terkenal enak. harganya 30.000 VND. ENYAAAKKK. wajib ya makan Banh Mi!

Tur Cu Chi Tunnels datang menjemput gue dengan bus ukuran 20an orang di hostel. Sebelum berangkat ke tujuan, beberapa tamu tur yang lain juga dijemput terlebih dahulu. Di tengah perjalanan, kita berhenti sebentar di tempat kerajinan karya seni yang dibuat oleh korban-korban dari Vietnam War (Agent Orange). Karya seni yang dominan disini terbuat dari kayu dan pecahan kerang yang disusun. Harganya lumayan mahal karena memang proses pembuatan yang rumit.

Setelah itu, tur dilanjutkan ke area Cu Chi Tunnels. Disini kalian akan dipandu oleh tour guide beberapa titik-titik menarik seperti pintu masuk lubang bawah tanah yang sangat sempit (dibuat untuk para tentara Vietnam dalam menyerang tentara Amerika Serikat secara gerilya).  Lubang-lubang ini dibuat oleh petani setempat dan warga sekitar. Ada pula jebakan lubang di tanah yang didalamnya berisi besi berduri. Ya jadi kalau ada orang lewat situ ngejeblos jadi berlubang juga (bayanginnya aja ngeri). Kalian juga bisa mencoba masuk melalui lubang bawah tanah untuk mencoba sensasi berperang ala gerilya. Buat yang Claustrophobic tidak disarankan ya! Gue pun mencoba nekad buat masuk lubang ini meskipun badan gue yang tinggi. Ya emang rada-rada susah tapi pengalamannya sungguh unik.

Selain ada wisata sejarah di sini, kalian juga bisa mencoba atraksi menembak sasaran dengan senjata asli. Gue ga tau darimana mereka dapatnya senjata aslinya tapi menurut gue itu fucked up banget hahaha karena mestinya penggunaan senjata kek gini cuma boleh dilakukan dengan pihak berwenang. Setelah menghabiskan kira-kira 2,5 jam, kami pun kembali ke Saigon. Gue bertemu dengan teman-teman baru sesama solo travellers dan makan malam Pho bareng di area Pham Ngu Lao Street. Sambil makan malam, gue mendapatkan banyak inspirasi dan cerita tentang Angkor Wat dari Karen (turis dari Kanada). Cerita bahwa Angkor Wat pernah menjadi kerajaan yang berjaya hingga dilanda musibah kekeringan dan perang sehingga menyebabkan peradabannya hancur. Puing-puing Angkor Wat sendiri baru ditemukan kembali oleh Bangsa Prancis yang pernah menjajah Kamboja. Setelah ditemukan kembali, banyak penelitian dan pemugaran candi-candi di komplek Angkor Wat.

Phnom Penh

1 Cambodian Riel = 4 rupiah

Hari ke-3 (24 September 2016)

Saatnya ke negara sebelah Vietnam, Kamboja. Gue ngambil bus antar negara Mekong Express ke Phnom Penh. Bus ini bisa dipesan di travel agent sekitar jalan Pham Ngu Lao. Harga bus yang gue ambil USD 14.

Bus antar kota Saigon – Phnom Penh

Perjalanan ke Phnom Penh memakan waktu setengah hari. Perbatasan dari Vietnam dan Kamboja, semua penumpang disuruh turun bus dan antre di imigrasi Kamboja. Ini agak unik si. Layout imigrasi nya berada di dalam satu gedung tua yang petugasnya ada di loket tinggi gitu. Biasanya yang punya bus uda ngumpulin passport dan kita nunggu sampai dipanggil namanya. Gue berangkat pukul 06.45 dan sampai di pusat kota Phnom Penh pukul 15.00. Pikiran gue pas sampai Kamboja dan perjalanan ke Phnom Penh ni kenapa kek Cakung ya banyak truknya. Ceritanya sepanjang jalan banyak konstruksi dan perbaikan dimana-mana. Di sepanjang jalan juga banyak toko-toko dadakan gitu, ada yang jual makanan ringan sama air mineral. Gue turun di pemberhentian bus akhir dan lanjut naik tuktuk 2 USD ke hostel.

Di Phnom Penh gue nginep di One Stop Hostel di daerah Sisowath Quay persis di depan sungai. Area ini memang pusat penginapan baik hotel maupun hostel. Ada banyak tempat makan, toko souvenir, bahkan tempat “bersenang-senang” di sekitarnya. Jadi kalau kalian perlu senang-senang tinggal ngesot ke sebelah. Meskipun telat, gue tetep mau makan siang dulu. Waktu itu sedang hujan deras dan gue jadinya makan di hostel. Gue langsung coba Lok-Lak, masakan khas sana. Lok lak ini terbuat dari daging sapi yang dimasak semur. Ya semur daging LOL. Mayan. Harganya 3,5 USD.

Beef LokLak

Nah masalah penggunaan mata uang. Disini agak unik. USD dan mata uang mereka sendiri, Riel sama-sama dipakai untuk transaksi pembayaran. Penggunaan USD lebih diprioritaskan dalam pembayaran. Kalau kalian bayar pake USD, ga selalu dapat kembalian USD. Lebih seringnya dapat kembalian Real (LOL). Jadi sebelum ke Kamboja emang uda harus mempersiapkan USD untuk transaksi disini. Aneh juga si di negara sendiri lebih diprioritaskan mata uang negara lain.

Setelah beres-beres, gue keluar untuk keliling kota untuk menghabiskan hari gue. Seingat gue dulu, moda transportasi di kotanya sendiri terbatas di jalan kaki sama tuktuk yang bisa di stop dimanapun asal lewat. Tidak ada transportasi macam angkot gitu, lagipula kalaupun ada gue pasti puyeng mesti naek yang mana. Kota Phnom Penh ini asik juga untuk dikelilingi dengan jalan kaki , asal ga terlalu panas. Saat yang tepat memang pagi hari atau sore menjelang malam. Gue berjalan menuju National Gallery Museum. Di sepanjang jalan gue mampir ke taman-taman kota, central market, dan Independence Museum.

Di national gallery museum ini gue nonton pagelaran tari tradisional oleh para kawula muda disana. Info ini gue dapatkan dari hostel yang merekomendasikan untuk menonton pertunjukan seni ala Kamboja. Tiket masuk untuk menikmati acara ini 15 USD. Kalian akan disuguhi dari beberapa tarian khas kamboja yang didominasi budaya mereka yang lekat dengan pagoda dan pertanian. Favorit gue adalah tari 3 dewi yang memakai ornament pagoda di kepalanya dan tari belalang yang memakai batok kelapa sebagai aksesoris suara di tariannya. Pokoknya recommended banget untuk nonton ya guys! Dibalik anggun dan serunya tarian mereka, ternyata ada masa lalu tragis yang menimpa para pekerja seni di jaman Khmer Merah. Sekitar 90% orang seniman dibunuh pada jaman pemerintahannya. Jadi dengan menonton pagelaran ini, kita juga berkontribusi untuk yayasan mereka dalam bidang seni tari.

Setelah nonton, gue balik ke area night market deket hostel untuk makan malam. Gue makan Seafood Fried Rice 3 USD, Beef Skewer 0,5 USD, dan Coconut Ice Cream 1,5 USD untuk dessert. Es krim kelapa ini wajib coba ya!

Hari ke-4 (25 September 2016)

Hari kedua di PHNOM PENH hanya bisa gue nikmati setengah hari karena jam 13.00 gue sudah harus naik bus ke Siem Reap. Gue harus memilih antara Tuol Sleng Museum (Museum penjara pada jaman Khmer Merah) atau Killing Fields (tempat dimana Khmer Merah membantai masyarakat Kamboja). Sebenernya bisa dilakukan keduanya kalau mau buru-buru, tapi karena sudah agak siang bangunnya gue pilih yang terdekat yaitu Museum Tuol Sleng.

Di museum ini gue belajar banyak tentang genosida yang dilakukan oleh Pol Pot, si Khmer Merah. Ada banyak foto-foto korban pembataian yang dipampang di penjara yang disulap menjadi museum ini. Kalian bisa melihat foto-foto muka korban genosida, kamar penjara dimana mereka disekap, dan beberapa alat penyiksaan yang membuat nurani ngilu. Pol Pot melakukan genosida dengan alasan yang tidak masuk akal. Ia membunuh mayoritas masyarakat yang dianggap pintar seperti berkacamata atau memiliki tangan yang lembut (?). Total korban pembataian ini mencapai 3 juta orang.

Entah museum atau killing field, wisata sejarah mengenaskan ini memang menjadi salah satu kenangan yang membuka mata bahwa masih banyak peristiwa memilukan di sekitar kita dan lebih bersyukur untuk hidup. Well, cukup mellownya ya hahaha. Setelah mengunjungi Tuol Sleng, gue bersiap untuk ke terminal bus menuju Siem Reap. Untuk order tiket ke Siem Reap sangat mudah dilakukan. Biasanya pihak hostel punya kontak untuk membantu kita. Gue juga beli tiket bus melalui hostel gue. Tiket ke Siem Reap dari Phnom Penh 13 USD naik Mekong Express.

Di perjalanan menuju Siem Reap gue ketemu dengan pelancong dari Prancis dan Australia. Langsung gue prospek untuk naik tuktuk bareng untuk mengunjungi Angkor Wat. Jadi sebelum berangkat ke Kamboja, gue uda kontak supir tuktuk di siem reap untuk nganterin gue keliling Angkor wat. Tarifnya lumayan murah sekitar 15 USD untuk sekali perjalanan mengitari lingkaran kecil Angkor Wat. Kalau gue ber4 ya tinggal dibagi 4 hahaha.

Gue sampai di Siem Reap pukul 21.00 dan langsung menuju hostel untuk berberes dan makan malam. Dalam perjalanan ke hostel, gue melewati daerah terkenal dengan turis, Pub Street (daerah wajib untuk setiap kota backpackers LOL). Hostel gue waktu itu namanya The Luxury Concept Hostel, cuma sekarang uda jadi Warm Bed Hostel (2018). Hari yang dipenuhi emosi dari sejarah memilukan Kamboja dan perjalanan panjang ke Siem Reap akhirnya gue tutup lebih awal karena besoknya harus bangun pagi jam 7 untuk keliling Angkor Wat.

Hari ke-5 (26 September 2016)

Gue janjian di Tous Les Jours sebagai meeting point dengan Miko, Anne dan Pauline untuk berangkat ke Angkor Wat. Supir tuktuk kita sudah menunggu disana. Oh ya, supir tuktuk kami namanya Bang Shafi. Ya, dia keturunan melayu dan bisa berbahasa Inggris dan Melayu. Gue dapat referensi dari grup Backpacker Dunia. Lumayan banget dapat supir / tour guide yang bisa berbahasa serumpun dengan gue hahaha.

Untuk mengunjungi Angkor wat kita diharuskan membeli day pass. Day pass ini ada yang berlaku satu hari (20 USD pada saat itu). Bagi yang memiliki waktu terbatas 1 day pass sudah cukup untuk menikmati indahnya komplek Angkor wat. Komplek Angkor wat sendiri terdiri dari 2 rute (rute lingkaran besar dan rute lingkaran kecil). Main attractions komplek Angkor wat sendiri ada di rute lingkaran kecil yang bisa dikunjungi dalam satu hari. Rute lingkaran besar menawarkan lebih banyak candi untuk dieksplor. Jadi kalau kalian punya waktu 3 atau lebih hari, kalian bisa mengambil 3 days pass dan mencoba kedua rute tersebut. Ternyata per tanggal 1 Februari 2017, harga passnya meningkat drastis. Untuk 1-day pass – US$ 37; 3-day pass – US$ 62; dan 7-day pass – US$ 72. Wow untung banget sudah mampir kesini beberapa bulan sebelumnya!

Gue mengambil small circuit atau rute kecil untuk memutari angkor wat secara lawan arah jarum jam (counter clock wise). Berikut ini beberapa candi yang kita singgahi:

  1. Banteay Kdei Temple & Srah Srang
  2. Ta Prohm Temple (Candi yang terkenal dengan pohon yang menyatu dengan tembok candi di film Tomb Raider)
  3. Ta Keo Temple
  4. Thommanon Temple
  5. Chau Say Tevoda Temple
  6. Bayon Temple (Candi dengan 200 muka patung tersenyum)
  7. Baphuon (Royal Palais)
  8. Angkor Wat

Mengelilingi komplek Angkor Wat ini bener-bener harus kalian coba minimal satu kali dalam hidup. Sensasi eksplorasi di reruntuhan candi sangat kuat gue rasakan ketika menginjakan kaki di komplek ini. Setiap candi punya cerita dan daya tarik sendiri. Satu hari terasa terlalu cepat berlalu saat gue keliling komplek ini. Pengalaman menelusuri Komplek Baphuon dan taman di sekelilingnya, manjat tangga candi layaknya Spiderman, terkagum melihat detail setiap ukiran di setiap sudut, memasuki lorong-lorong candi, melihat kegiatan monk, dan menikmati alam sekitar Angkor Wat benar-benar menjadi highlight trip gue ke Vietnam dan Kamboja kali ini. Kalau kalian kesini, cobalah untuk duduk santai sambil makan buah segar dan menikmati keindahan kuil-kuil peninggalan abad ke-11 ini. Cara terbaik menikmati Angkor Wat tergantung phase kalian masing-masing. Kalau kalian punya waktu dan suka hal-hal berbau sejarah, coba ambil pass 3 hari untuk mencoba big circuitnya. Ada juga yang bilang 1 hari cukup untuk memutari kuil-kuil yang paling populer disini. Oh ya, ada monyet di beberapa candi dan mereka cukup liar. Buah-buahan temen gue dirampas langsung dari kantong celananya hahahaha.

Perjalanan gue mengelilingi Angkor Wat berakhir sesaat sebelum matahari terbenam. Malam harinya gue habiskan buat keliling Siem Reap terutama di daerah night market dan toko-toko suvenir yang bertebaran di sekitar Pub Street.

Hari ke-6 (27 September 2016)

Well, what tiring and super awesome experience it has been! Gue uda harus rela meninggalkan Siem Reap dan Beef Loklak-nya (my new favorite food in Cambodia soalnya rasanya kek daging semur hahaha). Gue diantar ke Bandara dengan tuktuk Bang Shafi dengan harga nego 3 USD. Setelah nganter gue ke bandara, Bang Shafi sudah di-book-ing sama Anne & Pauline buat mengelilingi Big Circuit Angkor Wat. Hufft rasanya pengen gabung tapi dunia nyata sudah menanti. Pengeluaran gue selama di Vietnam dan Kamboja hanya sekitar 2 juta rupiah. Murah banget kan? Ayo ke Vietnam dan Kamboja!

Vietnam dan Kamboja sangat memukau dan berkesan bagi gue. Negara tetangga yang kadang bukan merupakan tujuan wisata orang Indonesia kebanyakan ini menyimpan berjuta cerita dan rahasia yang siap dikuak. Jadi, apakah kalian sudah siap menelusurinya?

One Comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *