Berburu Sakura dan Salju di Jepang #2

bagian #1 dari Berburu Sakura dan Salju di Jepang

Hari ke-3: 26 Februari 2017
(Tokyo – Kamakura – Tokyo – Utsunomiya – Nikko)

Kamakura

Time to leave Tokyo for good! Hari ini, gue akan lumayan banyak seliweran karena harus gonta-ganti kereta ke berbagai lokasi. Pagi harinya gue sudah harus berparmitan pada Anie (sayonara Anie! arigatooo!!!). Next stop? Gue akan pergi ke kota Kamakura untuk melihat patung Buddha besar ( Kamakura Daibutsu ) di kuil Kōtoku-in. Patung Buddha di Kamakura ini terbesar kedua di Jepang setelah Daibutsu di Todaji, Nara. Setelah sampai di stasiun Kamakura, gue melanjutkan perjalanan dengan naik streetcar ke stasiun Hase. Daerah bersejarah di Kamakura berada di sekitar stasiun Hase. Dari stasiun Hase, kita bisa melanjutkan berjalan kaki ke area kuil. Kuil pertama yang gue kunjungi adalah Kōtoku-in. Patung Buddha di sini ternyata pernah direnovasi beberapa kali karena kerusakan akibat gempa bumi. Setelah puas menikmati kuil Kōtoku-in, gue lanjut ke kuil Hase-dera (jalan kaki 5 menit). Gue suka banget kuil ini karena ketika masuk, gue disambut dengan taman yang bagus banget! Kita juga bisa berjalan ke area atas kuil untuk melihat Kamakura dari sana. Kamakura menjadi kota transit gue sebelum ke Nikko karena tidak butuh waktu lama untuk mengeksplornya. Gue cuma menghabiskan sekitar 4 jam di kota ini dan lanjut naik kereta ke Nikko pada siang harinya. Dalam perjalanan pulang ke stasiun Hase, gue menyempatkan waktu untuk membeli cemilan khas Kamakura berupa manisan. Oh ya, gue juga kebetulan melihat pasangan yang baru menikah diantar keliling jalanan dengan rickshaw. Another cultural experience I stumbled upon unexpectedly! Tidak ada kereta langsung menuju Nikko dari Kamakura sehingga gue harus berganti kereta di Tokyo.

Tokyo – Nikko

Untuk mencapai Nikko dari Tokyo, gue harus ganti kereta di Utsunomiya dengan tujuan Nikko. Bagi kalian yang ingin mengunjungi Nikko, ada beberapa alternatif pilihan paket:

  1. Nikko Pass, sebuah paket perjalanan dari Tokyo ke Nikko dan sebaliknya, bisa dibeli daring oleh pelancong melalui situs Japan Guide,
  2. JR Pass yang meliputi kota Nikko, contohnya JR East-South Hokkaido Pass.

Perjalanan ke Nikko dengan kereta membuat gue bernostalgia dengan anime yang berlatar belakang pegunungan dan jalur kereta di sekitarnya. Gue mulai melihat pemandangan bukit-bukit diselimuti oleh salju tipis ketika kereta mulai mendekati Nikko. Selain gue, mayoritas penumpang kala itu adalah murid sekolah. Kemungkinan mereka adalah penduduk Nikko yang bersekolah di kota Utsunomiya karena lebih metropolitan dibanding Nikko. Gue tiba di Nikko sekitar pukul 18.00 ketika bus dalam kota sudah tidak ada, pemirsaaa! Bus dalam kota Nikko, sayangnya, tidak beroperasi hingga malam hari. Untungnya, jarak dari stasiun ke hostel tidak terlalu jauh, hanya 12 menit dengan berjalan kaki.

Kesan pertama gue di Nikko ini: kok ni kota sepi amat ya? Di stasiun pun hanya beberapa orang yang terlihat. Nikko memang kota kecil dan tidak terlalu ramai (kecuali pada saat musim sakura dan musim gugur). Sepinya Nikko bertolak belakang dengan ramainya Tokyo di waktu yang sama. Ah well~ mungkin, penduduknya lagi “ngumpet” karena dingin.

Ketika berjalan menuju hostel, gue mulai merasa tidak enak badan. Ga lucu banget sih, kalau jatuh sakit pas lagi traveling gini. Gue membeli roti dan susu sekadarnya untuk makan malam. Sesampainya di hostel, badan gue bertambah hangat dan gue cepat-cepat mandi air hangat. Setelah mandi, kepala sudah terasa berat dan gue sudah tidak sanggup berdiri. Mimpi buruk, pun menjadi kenyataan: gue jatuh sakit! NOOOO!!!! *zoom in zoom out* Pokoknya gue tidak boleh sakit! Gue memperbanyak minum air hangat dan makan malam dengan harapan besok pagi kondisi badan gue membaik. Syukur-syukur, kalau langsung bisa jalan~ Amin.

  • Metro + Bus 250 ¥
  • Baggage Locker – Kamakura 300 ¥
  • Tiket masuk Hase-dera 300 ¥ , Kotoku-in 20 ¥
  • Beef Bento 580 ¥
  • Kereta Listrik dari Kamakura sta. – Hase St. 440 ¥
  • Dorayaki 180 ¥
  • Tokyo – Utsunomiya – Nikko (JR Pass) ~harga ecerannya 5.580 ¥
  • Hostel Nikkorisou Backpacker 1 malam 3000 ¥

Hari ke-4: 27 Februari 2017
(Nikko)

Alhamdulillah, pagi harinya, gue merasa jauh lebih baik. Badan gue keringetan ketika bangun tidur. Pertanda baik pikir gue. Sepertinya, kemarin kondisi badan gue drop karena perbedaan suhu antara Jepang dan Indonesia. Gue memulai hari dengan mengunjungi Shinkyo Bridge, jembatan picturesque melengkung berwarna merah yang terkenal di Nikko. Letaknya tidak jauh dari hostel dan bisa dicapai dengan berjalan kaki selama 5 menit. Udara pagi kala itu benar-benar terasa segar, bahkan melebihi kota-kota yang pernah gue kunjungi di Jepang. Mood gue mulai kembali membaik. Suhu dingin diimbangi dengan cuaca Nikko yang cerah. Perpaduan harmonis antara dingin dan se”uprit” panas. I need more heat! Di dekat Shinkyo Bridge, ada tempat favorit para backpacker untuk makan dengan budget minimal: Lawson. Tidak gue lewatkan kesempatan ini untuk sarapan~

Shinkyo Bridge

Sebelum memulai kembali jalan-jalan di Nikko, gue harus pindah hostel dan pergi ke stasiun untuk membeli unlimited bus ride pass. Pass ini wajib dibeli ketika kita “main” di Nikko karena bisa dipakai untuk “muter-muter” sekeliling kota dan area sekitarnya sampai mabok.

Nikko bus network

Hostel baru gue sangat recommended buat para budget traveler. Namanya: Nikkosan Backpackers. Letaknya sangat strategis banget karena hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari stasiun. Harganya juga murah dibanding hostel lainnya di Jepang (hostel termurah yang pernah gue alami).

Toshogu Shrine

Dengan memanfaatkan Nikko bus ride pass, situs yang pertama kali gue datangi adalah komplek Toshogu Shrine. Dahulu kala, tempat ini didedikasikan kepada Ieyasu Tokugawa, seorang Daimyo dan Shogun di Jepang. Gue mengenal namanya semenjak main Samurai Warriors dan Basara di Playstation. Jadi, ketika tahu bahwa Tokugawa dikuburkan di sini, gue penasaran banget, pengen berziarah ke makamnya (emang gue cucunya?). Komplek ini luas banget dan sangat nyaman untuk jalan-jalan santai. Letaknya yang berada di perbukitan menambah suasana segar dan rindang ketika gue menyusuri kuil-kuil dengan detail ukiran dan gambar menakjubkan di seantero arsitekturnya. Oh ya, kalau kalian ke sini, perhatikan lukisan-lukisan dan perpaduan warna pada genting kuilnya. Banyak orang melewatkannya begitu saja. Menurut gue, itulah daya tarik komplek kuil ini yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Shogun hebat pada zamannya.

Senjogahara Marshland

Setelah puas mengelilingi komplek Toshogu, gue naik bus lagi untuk pergi ke area terjauh yang bisa diakses dengan bus pass: Senjogahara Marshland. Tempat ini menjadi sasaran gue untuk melihat hamparan luas salju dengan pemandangan ciamik. Pada musim lainnya, ketika salju tidak menunjukkan batang hidungnya, area ini populer dengan turis yang melakukan aktivitas trekking. Kita bisa mencapai area ini dengan bus hingga pemberhentian Sanbomatsu untuk menikmati Senjogahara dari observation deck atau pemberhentian Akanuma untuk mencapai hiking trails. Saat musim dingin, hiking trails tidak dapat dilewati sehingga gue berhenti di Sanbomatsu. Gue sengaja datang ke sini karena ingin merasakan sensasi berada di tengah-tengah dataran salju. Cocok banget untuk kita yang ingin mencari kedamaian. Ketika gue ke sana, untungnya, tidak ada orang lain. Jadi, terasa kalau tempat ini buat gue seorang doang. My own private place. Di sisi utara “rawa” bersalju ini, ada lanskap pepohonan pinus dan beberapa rumah perhentian bagi turis yang ingin berkuliner. Salju setebal dua meter melapisi beberapa titik. Gue kegirangan seperti bocah yang baru pertama kali melihat mainan baru. Gue berjalan-jalan kecil di bawah pohon pinus sambil menginjak-injak genangan air yang membeku sampai retak. Sumpah, sudah kayak orang gila beneran. Untungnya, aksi kampungan ini tidak disaksikan oleh satu manusia pun. Setelah puas melamun dan memikirkan nasib dunia di sini *ceileh*, gue memutuskan untuk kembali ke hostel untuk makan malam dan beristirahat.

Senjogahara Marshland

Makan Malam : Ramen Bonten

Kegiatan paling menyebalkan saat musim dingin adalah mandi. Sudah LEBIH DARI 24 JAM gue belum mandi karena kemarin badan masih meriang. Males banget rasanya mandi kala cuaca dingin hahaha. Untungnya, air panas selalu tersedia di penginapan. Coba bayangkan kalau air panasnya mati. MATI. Untuk makan malam, gue keluar lagi untuk hunting kuliner khas lokal. Di Nikko, suasana malam harinya tidak semeriah di Tokyo atau Osaka. Tidak jarang, toko-toko sudah gelap setelah pukul 6 sore, menandakan bahwa si empunya toko telah meninggalkan lapaknya. Gue pun merapat ke restoran ramen terdekat. Ramen yang khas di Nikko (setidaknya, ini yang gue temukan di sini dan tidak pernah gue coba di tempat lain) adalah Ramen Bonten berkuah kaldu jagung asin. GILAK MAKNYOSS. Rasanya sungguh nikmat dengan kuah gurih nan segar. Makan ramen ini bisa memberian kehangatan yang kurindukan~ Recommended banget bagi kalian yang ingin mencoba ramen lokal di sini (letaknya di jalan utama sebelum Shinkyo Gate).

Ramen Bonten
  • Bus (Shinkyo Gate – Nikko Tobu) 200 ¥
  • Unlimited Bus Ride 2 days (Nikko – Senjogahara) 2.650 ¥
  • Makan Pagi Onigiri + minum 380 ¥
  • Makan Siang Chicken Katsu 580 ¥
  • Lip Balm 322 ¥
  • Tiket Masuk komplek Toshugu Shrine 1.300 ¥
  • Hostel Nikkosan Backpackers 2 malam 1.980 ¥
  • Makan Malam – Ramen Bonten (Salt corn) 650 ¥

Hari ke-5: 28 Februari 2017
(Nikko)

Yes, I feel much better than yesterday! Setelah badan gue bisa beradaptasi dengan cuaca sini, gue merasa semakin segar. Memang, di cuaca dingin, dianjurkan untuk banyak makan minum hangat. Next adventure awaits! Hari ke-3 di Nikko ini, gue memutuskan untuk mengunjungi 3 tempat (Kanmagafuchi Abyss, Lake Chuzenji, dan Kegon Falls).

Kanmagafuchi Abyss

Terinspirasi dari Tripadvisor, gue memilih rute berjalan kaki ke area Kanmagafuchi Abyss. Hah? Ke neraka? Hahaha! Bercanda! Arti dari abyss sendiri: neraka atau lubang yang dalam. Loh, kok? Iya, area ini terbentuk dari erupsi lava Gunung Nantai. Memang bagus? Jangan salah! Pemandangan menuju ke abyss ini sangat asri dan menenangkan. Bagaimana tidak? Gue harus melewati perumahan warga, menuju area perbukitan yang tidak banyak dilalui orang. Jadi, selama gue berjalan kesini, turis yang gue temui dapat dihitung dengan jari. Setelah melewati komplek perumahan, gue disambut oleh sungai yang airnya super jernih, sampai-sampai gue jadi pengen berenang seandainya tidak sedingin es. Dari sini, gue menelusuri bukit belakang komplek untuk menuju Kanmagafuchi Abyss.

I really loved this place! Buat yang mencari ketenangan batin, tempat ini perfect. Kita bisa duduk-duduk di pinggir sungai sembari mendengarkan gemericik aliran air atau menghirup udara segar bukit belakang atau tidur telentang melihat dedaunan pohon pinus yang menghalangi sinar mentari. Waktu gue ke sana, musim dingin sudah mulai berakhir. Bebatuan di pinggir sungai yang dulunya dilapisi es sudah mulai memperlihatkan wujud aslinya. Buat yang hobi fotografi, gue jamin pasti bisa dapat foto-foto ciamik di sini!

“Atraksi” lain yang menarik dari tempat ini adalah deretan batu Jizo yang mengenakan aksesori semacam pelindung kepala dan leher berwarna merah. Patung batu Jizo adalah simbol ikonik spiritual yang melindungi dan merawat jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia. Jadi selain pemandangan alam, kita juga bisa menikmati situs peninggalan yang bersejarah ini. Jangan kesini malam-malam, ya! Serem!

Lake Chuzenji

Danau Chuzenji menjadi salah satu tujuan wajib karena ukurannya yang besar dan berada di bawah kaki gunung Nantai. Danau ini berada di dekat bus stop Chuzenjiko Onsen. Lokasi ini bisa dinikmati di berbagai musim. Puncaknya adalah musim gugur, ketika pepohonan di sekitar danau berubah warna menjadi kecoklatan. Yah, meskipun gue datang saat winter, gue masih bisa menikmati suasana di sini. Alih-alih berjubel dengan orang untuk menikmati foliage di musim gugur, gue bisa jalan-jalan santai di pinggir danau dan menikmati gunung yang berubah warna menjadi biru tua keabu-abuan yang masih diselimuti salju. Orang-orang juga masih bisa dihitung dengan jari. It’s indeed a perfect place to find solitude.

Kegon Falls

Letak air terjun Kegon tidak jauh dari danau Chuzenji. Kita bisa berjalan dari bus stop yang sama: Chuzenjiko Onsen. Saat itu, Kegon Falls masih dalam proses mengembalikan wujud aslinya setelah melewati musim dingin yang membuatnya statis. Sisa serpihan es, yang membentuk stalaktit es, menyelimuti air terjun Kegon dan menambah keindahannya. Keren banget! Sekali lagi, ini hal baru yang belum pernah gue liat sebelumnya. Air terjun setengah beku.Half frozen. Let it go~ let it go~

Menikmati Pemandian Air Panas di Nikko

Pilihan untuk mandi air panas di Nikko sangat beragam, mulai yang tersedia di hotel sampai hingga tempat khusus pemandian air panas di Yumoto Onsen. Di hostel? Gak ada lah! Tapi, jangan sedih! Karena, untungnya, hostel yang gue tempati memberikan voucher untuk menikmati onsen di hotel terdekat. Namanya Hotel Nikko Classic. Harga onsen setelah menggunakan voucher hanya 500 yen. Yah, termasuk murah untuk ukuran onsen di hotel. Ini kali kedua gue mencoba onsen di Jepang. Kali pertamanya, gue ditemani oleh teman dari Jepang, Kosuke. Nah, kali ini, mau tidak mau, gue harus masuk sendiri. Untungnya, gue masih ingat etika memasuki onsen. Tau kan? Harus completely naked di sini! Buat kebanyakan orang Indonesia, hal ini masih belum lumrah. Bagi orang Jepang, mandi bareng adalah kegiatan sehari-hari *eaaaa*. Oh ya, orang bertato dilarang masuk karena dianggap yakuza. Mandi di onsen memang paling pas dilakukan saat suhu rendah dan udara dingin. Rasanya luar biasa menenangkan!

Makan Malam Home-made di Hostel

Malam terakhir di Nikko, gue habiskan di hostel dengan mengobrol bareng traveler lainnya. Kami makan malam bersama. Hidangannya, khusus dibuat oleh pengurus hostel! Selain enak, harganya juga “nyaman” di kantong. He he he. Hostel gue kali ini benar-benar membuat gue bisa berhemat. Kami makan hotpot dengan nasi dan sayuran. Gue juga berkesempatan mendengarkan berbagai cerita unik dari teman traveler. Yang pertama, Sabrina dari Italia. Katanya, sebelum liburan, dia bekerja selama 3 bulan di Australia sebagai pemetik buah stroberi. What?! Metik stroberi doang? Jangan salah! Penghasilannya selama sebulan bisa mencapai 2000 AUD tergantung target petikannya. WHAAAAT~ My whole life is a lie~ just kidding. Ternyata cara ini banyak yang dilakukan oleh kawula muda untuk mencari penghasilan + traveling di Australia.

Gue juga bertemu orang Taiwan yang bercerita tentang akrabnya Taiwan dan Jepang. Katanya, “Orang Taiwan suka Jepang dan orang-orangnya, orang Jepang juga suka Taiwan dan orang-orangnya. Tapi, kami (Taiwan dan Jepang) kurang menyukai orang mainland China.” Ini karena perilaku mereka, tambahnya. Menurutnya, meskipun mereka punya darah Chinese, perilaku mereka lebih beradab dari pada turis-turis Negara China. Benar juga, pikir gue. Ha ha ha. Setelah makan malam dan ngobrol, gue pun bersiap untuk istirahat karena besok akan berangkat ke Hokkaido pagi-pagi!

  • Makan pagi di Hostel 300 ¥
  • Makan siang Nasi + Hamburger560 ¥
  • Onsen di Hotel Nikko Classic 500 ¥ + milk tea & milk 300 ¥
  • Makan malam di hostel 270 ¥
  • Beli Bento untuk perjalanan besok 600 ¥

bagian #1 dari Berburu Sakura dan Salju di Jepang

One Comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *