Berburu Sakura dan Salju di Jepang #1

Have you ever fallen in love with a place and wanted to return as soon as possible?

Pertanyaan di atas mungkin adalah pemicu keinginan gue untuk mengunjungi negara Matahari Terbit untuk kedua kalinya. Begitu berkesan dan menyenangkan pengalaman Solo Traveling kesana, gue jadi pengen balik lagi. Waktu itu bulan November 2016 dan gue baru bangun pagi. Banyak notifikasi dari grup Pemburu Tiket Promo di facebook tentang promo tiket murah ke Jepang dengan menggunakan Malaysia Airlines. Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Tokyo bisa dibeli dengan hanya Rp 500.000,-. Tanpa ambil pusing, gue langsung beli dan cari tanggal. Iya, bisa se-impulsif begitu gue kalau liat tiket murah. Katanya si lebih menyesal kalau ga beli. Pertimbangan waktu itu adalah Visa Waiver Jepang gue masih berlaku sampai dengan bulan April 2018 dan pada triwulan awal tahun 2017 gue belum punya rencana untuk bepergian. Gue pesan tiket KL-Tokyo untuk akhir Februari 2017 namun belum membeli tiket baliknya.

Meskipun tiket keberangkatannya murah, tiket baliknya tidak murah-murah amat karena belinya dadakan. Gue nge­-research dulu kira-kira enaknya kemana pas periode waktu tersebut, berapa lama, dan menghabiskan uang berapa. Setelah melalui proses yang rumit dan menegangkan (lebay), gue memutuskan untuk pulang dari Sapporo, Hokkaido untuk menikmati musim dingin di sana. Rute perjalanan yang akan gue lakukan adalah dari Tokyo sampai dengan Sapporo sambil mampir di kota-kota di antara rute tersebut.

Persiapan Keberangkatan

1. Transportasi

Untuk transportasi, gue memilih JR East-South Hokkaido Pass. JR Pass ini khusus melayani rute yang sudah gue pilih sebelumnya, yaitu dari Tokyo ke Sapporo. Selain 2 kota ini, JR Pass ini juga melayani rute beberapa kota yang sudah gue incar untuk dikunjungi:

  • Kawazu (kota dimana kita bisa melihat sakura lebih awal di akhir Februari 2017),
  • Kamakura (ada sebuah patung Buddha besar yang dibangun pada tahun 1252 Masehi di dalam kuilnya),
  • Nikko (kota kecil di prefektur Tochigi dan berada di area pegunungan utara Tokyo)
  • Hakodate (kota pelabuhan di selatan Hokkaido)
  • Sapporo (ibu kota Hokkaido)
  • Otaru (kota di utara Sapporo dengan kanal-kanal yang terkenal)

Gue memutuskan untuk menggunakan JR Pass karena jatuhnya lebih murah daripada harus memesan tiket kereta secara eceran. Harga tiket kereta dari Tokyo ke Sapporo waktu itu kalau tidak salah sekitar 3 juta sedangkan harga paket JR Pass 26,000 yen atau sekitar 3,4 juta dan bisa dipakai untuk ke kota lainnya. Transportasi di Jepang emang bikin kantong mengerang~

Alternatif transportasi di Jepang yang lebih murah adalah bus antar kota willerexpress. Gue menggunakan alternatif ini pada tahun 2015 dengan rute Osaka – Tokyo – Hiroshima – Kyoto (3 kali perjalanan dalam waktu 5 hari) dan menghabiskan sekitar 1,3 juta rupiah (klik disini untuk itinerari Jepang tahun 2015). Bandingkan dengan JR Pass Whole Japan dengan harga 3.6jutaan (7 hari). Pilihlah yang paling cocok dengan jadwal kalian ya! Lumayan banget kalau dihitung-hitung hehe

Karena tujuan gue adalah berburu bunga sakura dan salju, penting banget untuk mencari tahu di kota mana sakura mekar dan di kota mana yang masih ada saljunya. Semua ini bisa kalian cari tahu sendiri di internet. Untuk peta mekarnya sakura kalian bisa lihat di sini (2019). Untuk perkiraan seperti apa, gue kasih lihat infografis di bawah ini:

sumber: jrailpass.com

sumber: japan-guide.com

Gampang kan? Kalian tinggal mendesain rute perjalanan sesuai dengan tujuan kalian. Kebetulan banget pas gue kesana itu tepat dimulainya bermekaran bunga sakura di Kawazu dan gue masih bisa melihat salju di Nikko dan Hokkaido. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui!

2. Akomodasi

Gue memesan beberapa hostel melalui booking.com dan Travelocity.com (pertama kali mencoba karena ada diskon 30 USD waktu itu) untuk kota selain Tokyo. Di Tokyo, gue nginep di tempat teman selama 2 malam. Rata-rata harga hostel di Jepang untuk 1 ranjang dorm sekitar 3000¥ atau 400 ribu rupiah (kurs 2019). Mahal ya! 

3. Pakaian musim dingin

Perlindungan untuk bagian badan yang sensitif dingin seperti telinga, leher, kaki, dan kepala dari suhu udara yang dingin, sangat penting! Fakta menarik ketika traveling di musim dingin adalah ternyata gue tidak banyak mengganti kaos karena nyaris tidak pernah keringetan hahaha. Dari 6 kaos yang gue bawa, gue cuma pakai 3 kaos selama 1 minggu hahaha. Sisanya ya luaran yang menggumpal. Yang biasanya gue pakai ketika keluar pakaian dalam – longjohn – kaos – kemeja – jaket tipis – jaket tebal. Oh ya, kalian bisa membeli HEATPAC, bungkusan pemanas yang bisa digenggam (dijual supermarket). Harganya murah namun khasiatnya menakjubkan!

Hari ke-1: 24 Februari 2017
(Tokyo)

Gue tiba di Tokyo saat malam hari. Saat itu, terasa udara dingin yang lumayan menusuk kalbu tulang persendian~ Pertama kalinya gue merasakan sensasi dingin di musim dingin yang alami (biasanya padahal kedinginan gegara AC). Ketika memasuki imigrasi, gue sempat cemas karena ada rumor bahwa warga Indonesia diawasi ketat. Beberapa minggu lalu, ada kasus pembunuhan warga lokal oleh WNI. Horror! Kalau kena random check, bisa berabe nih urusannya! Ambil tampang innocent ajalah pikir gue hehe. Alhamdulillah, gue lolos imigrasi dan sudah siap menjelajahi Jepang untuk kedua kalinya!

Gue naik Keisei Bus dari bandara ke Stasiun Tokyo dan dilanjutkan naik MRT ke Stasiun Ebisu, tempat gue dan Anie akan bertemu. Anie adalah teman gue yang bekerja di Jepang dan mau gue repotkan dengan menumpang tidur di “kosan”nya. Di perjalanan balik ke kosan Anie, gue mampir di Lawson untuk membeli makan malam: Okonomiyaki instan dan teh. Cara berhemat paling gampang di Jepang, ya, beli makanan di Minimarket :3 Di kosan Anie gue tidur ala-ala Nobita di futon gitu~ Thank you Anie!

Anie and Me

Rincian Biaya hari ke-1:

  • Narita Airport – Tokyo by bus 1000 ¥
  • Metro + Bus ke kosan Anie 420 ¥
  • Okonomiyaki 300 ¥

Hari ke-2: 25 Februari 2017
(Tokyo – Kawazu – Tokyo)

Pagi harinya, gue siap-siap untuk pergi ke Kawazu. Sebelum kesana, gue harus menukarkan voucher JR Pass gue di stasiun Shinagawa dengan JR Pass yang valid. Sialnya, ternyata gue lupa bawa passport! Untuk menukarkan voucher JR Pass dengan yang asli, kita harus membawa passport asli. Untungnya, Anie masih belum berangkat kerja. Gue minta tolong Anie untuk membawa passport gue dan bertemu di Stasiun Ebisu (kebetulan Anie juga ke stasiun ini untuk lanjut kereta ke kantornya) . Gue membeli bekal bento untuk dimakan di kereta. Bento box ini bisa dibeli dimana-mana, terutama stasiun. Bento boxnya enak banget sumpah! Di stasiun Shinagawa, toko yang menjual bento melimpah. Jadi, wajib dibeli jika kalian mampir di stasiun ini.

Bento box (isi: nasi, karage, salad, naruto)

Cara memakai JR Pass ini sangat praktis. Gue cukup mendatangi customer service JR dan memesan langung tiket dengan tujuan manapun dan waktu yang gue mau (selama masih tersedia tentunya). Jika kita sudah memesan tiket, namun keretanya terlanjur lewat, kita masih bisa mendapatkan tiket untuk jadwal selanjutnya! Meskipun agak telat dari waktu yang direncanakan sebelumnya, gue akhirnya berangkat ke Kawazu jam 10.30 A.M. Letak kota ini ada di Peninsula Izu yang menghadap lautan. Jadi, selain menikmati sakura di sepanjang sungai, kita juga bisa menikmati pantai di Kawazu.

Map Sakura Festival Kawazu (sumber: https://www.japan-guide.com/e/e6314.html)
Map Sakura Festival di Kawazu (sumber: https://digjapan.travel/en/blog/id=10030)

Perjalanan ke Kawazu memakan waktu sekitar 2,5 jam. Sesampainya di stasiun Kawazu, gue berjalan santai mengikuti kerumunan orang yang bergerak menuju area bunga bermekaran di sekitar sungai. Di sini, suasana festival dimeriahkan oleh berbagai toko makanan dan oleh-oleh. Ada yang menjual ikan kering, kue mochi sakura, keripik cumi-cumi dan masih banyak lagi. Gue membeli es krim Sakura berwarna merah muda untuk menemani gue saat menikmati indahnya bunga sakura. Di sekeliling sungai, berderet rapih pohon ceri, lengkap dengan bunga sakura yang mekar bewarna variasi merah muda. Salah satu bucketlist gue akhirnya terlaksana. Dalam periode 1 minggu, gue bisa menikmati bunga sakura di Kawazu dan bermain salju (nantinya di Nikko dan Hokkaido). Buat kalian yang merencanakan pergi pada akhir Februari, mungkin saja juga bisa mendapatkan kesempatan seperti gue. Jadwal cherry blossom biasanya sudah dipublikasikan oleh pemerintah Jepang pada awal tahun.

Waktu terasa cepat berlalu. Padahal, gue hanya ber jalan santai, duduk menikmati sejuknya udara, dan memandang sakura. Tidak terasa gue sudah di Kawazu selama 3 jam. Setelah puas berkeliling, gue kembali ke Tokyo untuk bertemu Anie dan teman-temannya, sesama WNI yang bekerja di Jepang, di stasiun Shinjuku. Sebelum makan malam bareng, kita pergi ke area permainan (arcade hall) untuk latihan baseball (dengan mesin bola otomatisnya). Inget ga, suasana di anime ketika murid-murid sekolah sedang latihan baseball dan ada mesin yang bisa menembak bola sendiri? Nah, di tempat ini, kita bisa “menyewa” mesin ini untuk berlatih baseball. Ini adalah kali pertama gue mencoba latihan memukul bola baseball! Yah, meskipun lebih sering meleset daripada kena~ SO FUN!

Setelah keringetan puas main, kita beranjak untuk makan malam sushi seharga 100 Yen di Kura Sushi hehehe. Dua tahun lalu, di Osaka, gue makan di Hama Sushi. Ternyata banyak yang antre mau makan disana meskipun sudah agak malam! Ya, dimana-mana kalau harga murah pasti diburu, ya! Tahu ketika harga per piring hanya 100 yen (2 nigiri sushi), jadilah gue kalap!Di Indonesia, harga 2 buah nigiri sushi dipatok sekitar Rp 30.000-an. Gue cuma makan 6 piring kok~ seinget gue ya~ Gue banyak sharing cerita dengan Anie dan teman-temannya tentang hidup sebagai expats di Jepang. Rasanya ketemu orang Indonesia di luar negeri tuh, memang senang dan seru banget. Kita jadi bisa banyak tahu soal cerita dan pengalaman mereka!

With Friends in Tokyo (Anie, Me, Atra, Wiyang, Romi)
lagi rakus

Rincian biaya hari ke-2

  • Metro + Bus 700 ¥
  • Bento box untuk makan siang 600 ¥
  • Jajan di Kawazu 500 ¥
  • Makan Malam di Kura Sushi 600 ¥
  • Game Centre (Baseball Batting + Drum Game) 600 ¥

berlanjut ke bagian #2 Berburu Sakura dan Salju di Jepang

One Comment Add yours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *