Je parle un peu de français dan Si, Parlo Italiano! #1

“catatan perjalanan ke Prancis dan Italia”

arti: Saya bicara sedikit bahasa Prancis dan ya, saya bicara bahasa Italia!

Prolog

“Kapan ya gue bisa ke Eropa?”

Ini adalah pertanyaan dan angan-angan gue dari masa kecil. Mungkin juga ini pikiran orang lain yang uda banyak mendengar musik atau menonton film Eropa. Biasanya si kota yang akan terpikir pertama kali adalah Paris. Bagaimana tidak? Paris merupakan salah satu kota paling terkenal di dunia. Romantis. ya, asal kalian kesananya sama kekasih tercinta sih. Kalo sendiri? Enjoy ajalah! Bisa cuci mata juga kok!

Tercapainya misi gue untuk jalan-jalan ke Eropa dimulai dari tiket murah dari Qatar Airways awal minggu pertama bulan November tahun 2015. Saat itu, gue lagi biasa SIBUK kerja di kantor lalu kemudian ada notif menggila dari grup whatsapp dan fb yang heboh tiket murah ke Eropa. Langsung alam bawah sadar gue seperti menghentak gue untuk membeli tiket itu. langsung dong ya gue cari kapan dan kemana aja.

Tanpa pikir panjang, gue langsung beli malam itu juga. Waktu berangkat sekitar 1 minggu sebelum lebaran (ya risiko puasa disana, tapi kesempatan diijinin cuti lebih besar, maklum cuti abis lebaran pasti jadi komoditi berharga di kalangan budak seperti gue) dan pulang 1 minggu setelah lebaran. Jadi, dengan mengambil 5 hari cuti, gue bisa liburan 2 minggu. Not too bad, huh? Gue beli tiket dari Kuala Lumpur ke Paris dan kembali dari Roma ke Jakarta (ini membuat harga tiket menjadi lebih murah). Waktu itu, pas banget credit card gue di-approve minggu lalunya (dalam hati, ini keknya uda takdir dibeli malam ini). 2 minggu di Eropa bagi yang pertama kali kesana adalah waktu yang ideal menurut gue. Waktu itu gue memilih hanya ke 2 negara karena ingin benar-benar meresapi (halaah) pengalaman di Prancis dan Italia. Yah, meskipun kayak kutu loncat juga sih ya selama 2 minggu gue pergi ke 10 kota.

Harga tiket KL – Paris, Roma – Jakarta : Rp 6juta (+ Jakarta – KL : Rp 6,6juta). Ini adalah harga yang murah dibandingkan harga kalau kalian beli dalam waktu dekat dengan keberangkatan. Harga tiket ke Eropa biasanya 9juta ke atas tergantung dengan airlines untuk penerbangan full service. Saat ini Scoot Airlines juga menawarkan tiket dengan harga yang cukup murah untuk ke Berlin dan Frankfurt, yah tapi bukan full service (tidak dapat makan dan bagasi). Tiket harga Scoot bisa berkisar mulai dari 6jutaan.

Persiapan keberangkatan

Waktu itu gue ambil visa Schengen lewat kedubes Prancis karena katanya cepat dan gampang. Kebetulan gue juga punya teman dari Kedubes Prancis. Namanya Editha. Dan menurut perbincangan gue dengan Editha, kalau mau dapat visa Schengen mendingan lewat kedubes Prancis atau Belanda. Well, karena gue ga ke Belanda, maka gue putuskan untuk ambil lewat Prancis (toh gue juga mendarat di sana)

Berikut prosedurnya:

Apply in French Embassy via Tlscontact
Fee: €60 + 400ribu biaya adn tlscontact.
Proses 2 hari di Embassy + 1-2 hari di tlscontact. Alamat Menara Anugerah Lt. 3 Mega Kuningan.
Website: https://www.tlscontact.com/id2fr/login.php

LAMPIRAN :

  1. 1.Formulir permohonan visa (automatically generated dari site / isi manual.
  2. 2 lembar pas foto 3,5×4,5 cm
  3. Copy tiket pulang pergi
  4. Asli dan copy asuransi perjalanan (paling mudah apply AXA mandiri via internet)
  5. Copy booking tempat tinggal disana (booking.com paling gampang dan pastikan bisa dicancel secara gratis dan book untuk setiap tanggal)
  6. Asli rekening koran 3 bulan + surat keterangan nasabah dari bank
  7. Surat keterangan bekerja (untuk PNS bisa pakai surat rekomendasi dibuat sendiri saja formatnya yang penting mencantumkan nama, jabatan, alasan, tanggal perjalanan, siapa yang akan bertanggung jawab atas keuangan pelamar sewaktu bepergian, alamat kantor, telepon dan fax, cap perusahaan, tanda tangan, nama dan jabatan yang mengeluarkan surat rekomendasi – kasi langsung bisa)- In English
  8. Surat keterangan gaji dari bendahara + translation In English
  9. Slip gaji 3 bulan terakhir (asli dan copy)
  10. Copy kartu keluarga
  11. Passport asli + copy halaman identitàs
  12. Passport lama apabila ada

Tambahan (katanya kalau ada lampirannya dilengkap2in yang lain lebih pasti diterima)
– copy kartu pegawai (nametag)
– copy ktp
– copy sk pns (untuk pns)

Visa gue jadi dalam waktu 4 hari dan prosesnya cepat

Selain visa, gue juga menyiapkan akomodasi, transportasi, dan relasi disana. Akomodasi ini adalah hal paling krusial ketika traveling di Eropa. secara mahal banget penginapan disana. Gue harus mengeluarkan kocek setidaknya Rp 250rb untuk semalam disana! Ini adalah harga termurah untuk hostel hahaha. Tapi jangan sedih, untungnya gue punya kenalan dan teman yang berbaik hati yang mau menampung gue. Selain ada teman, Couchsurfing juga gue pakai ketika disana meskipun hanya 1 hari.

Banyak yang tanya gue, bagaimana cara mendapatkan teman WNA di negara lain dan bisa nginap di tempat mereka. Hmm, kebetulan aja sih bisa pas ada teman yang tinggal disana atau ditawarkan nginap di tempat keluarga mereka. Contohnya, ketika gue ke Firenze, Italia, gue ditawarkan untuk menginap di rumahnya dengan Ibu dan adiknya (saat itu dia lagi kerja di Jakarta). Well, I guess it was my luck to know some locals who happened to live there hahaha. Tapi, sebenarnya jawabannya simple. Perbanyak networking dan lingkaran pertemanan saja 😉

Moda transportasi di Eropa sangat beragam dan gampang diakses, antara lain: kereta api, bus, pesawat, dan mobil pribadi. Semuanya tergantung budget yang kalian anggarkan. Kalau gue, sudah jauh-jauh hari memesan tiket bus (megabus) untuk rute Paris – Milan dan kereta api untuk rute Florence – Roma. Reservasi ini gue beli karena rute ini hampir pasti (untuk menjaga itin gue juga supaya ga ngelantur kemana-mana). Well, suatu saat gue maunya keliling tanpa harus reservasi dan maunya on the spot. Mungkin pas gue ada waktu lebih lama untuk traveling lagi (Amin!)

Dan saatnya petualangan dimulai (WOOHOO!!)

Pikiran gue kacau balau sekaligus riang bukan main. Gue akan menghabiskan 2 minggu di Prancis dan Italia. Semua rencana tertulis rapi di buku jurnal travel gue. Gue berangkat tepatnya tanggal 24 Juni 2016 malam ke Malaysia untuk transit sebentar karena pada esok harinya tanggal 25 Juni gue akan pergi ke Paris dengan Qatar Air.

24 Juni 2016

Jumat malam yang terasa sangat cepat. Waktu itu gue izin pulang lebih awal dari kantor karena gue ga mau ketinggalan pesawat malam ke Malaysia. Maklum, jumat malam adalah waktu yang sakral. Dulu pernah gue ketinggalan pesawat pas mau ke Malaysia juga (tujuan Melaka). Saat malam itu, gue merasa ada iblis turun ke ibukota yang mengutuk semua warga Jakarta untuk terlambat dengan badai angin dan hujan yang membuat merinding. Meskipun gue berhasil naik bus dari Gambir pukul 17.30, gue tetep sampe di bandara pukul 20.45. 10 menit setelah boarding gate closed. Bye.

Karena trauma, gue mulai saat itu memutuskan untuk selalu ambil 4 jam harus sudah jalan ke bandara sebelum keberangkatan untuk jaga-jaga. Alhasil, gue sampai dengan aman di Soekarno-Hatta untuk naik pesawat Airasia ke Kuala Lumpur. Yah, karena ini cuma transit, seperti biasa ketika sampai di Kuala Lumpur, gue cuma celingak-celinguk cari makan dan minum serta istirahat seadanya di Lantai 2 atasnya Immigration Check KLIA2. Biasanya emang banyak orang-orang pada tidur disana.

restoran mamak bisa menjadi salah satu opsi tempat untuk tidur karena harga makanannya murah dan tempat duduknya bisa buat selonjoran + charge HP. Letaknya di Lantai 2 KLIA2 diatas pintu masuk Immigration Checkpoint

25 Juni 2016 – Flight to Paris via Qatar ~ Welcomed by Paris

Untuk penerbangan ke Prancis via Qatar gue harus ke terminal KLIA dengan kereta antar terminal (kalau tidak salah 3 ringgit untuk sekali naik). Waktu tempuhnya pun tidak terlalu lama sekitar 10 menit.

Pengalaman naik pesawat airbus Qatar Air kali ini adalah yang pertama kalinya bagi gue. Ya meskipun bukan duduk di first class yang bisa tidur selonjoran, bagi gue ini merupakan kemewahan kecil dan sempit yang lumayanlah(tetep ya karena kaki kepanjangan, duduk dimanapun berasa sempit). Fasilitas pesawat ini oke punya meskipun untuk kelas ekonomi. Kursi yang dilengkapi dengan headset dan TV mini yang berisikan puluhan film dan ratusan lagu untuk dinikmati. Makanan besar dan snack pun hadir di tengah keroncongan perut penumpang. Yang paling enak si bisa nambah tanpa batasan hihihi (cocok banget buat backpacker kayak gue)

Tiba di Doha kira-kira waktu itu jam 12 siang dan harus transit sekitar 2 jam setengah. Waktu luang itu gue manfaatkan buat keliling Bandara Hamad International Airport. Kesan pertama adalah bandara ini luas banget! Orang-orang yang lalu lalang pun sangat beragam dari berbagai belahan dunia, ya meskipun masih didominasi keturunan Arab (yaiyalah). Gue keliling toko2 di bandara dan meringis liat harga barang2nya. Ntah emang di bandara jadi mahal banget atau emang di Doha ini mahal semua barangnya. Sepotong sandwich saja harganya hampir nyentuh 100 ribu rupiah. Untungnya gue uda makan banyak di pesawat, kalo ga bangkrut hehe. Mushola di bandara ini juga unik bagi pengunjung kayak gue. Kita bisa duduk ketika wudhu (ada semacam bangku di setiap kran).

Selang 2 jam berkeliling, gue melanjutkan perjalanan udara ke Paris. Sebagian besar waktu di pesawat gue habiskan dengan menonton film2, senam minimalis, pergi ke toilet, liatin orang lain pada tidur, sama minta orange juice~

Hal yang paling teringat saat gue “terbang” melintasi Prancis adalah saat gue melongok ke bawah. Hamparan bewarna hijau dan tertata membentang luas. Tidak hanya hijau, kota-kota Prancis yang terlihat dari atas sangat tertata dan rapi. Pertanian gandum yang bewarna kuning kehijauan menemani kekaguman gue. Wah pokoknya cantik dan rapi banget!

Sampai juga gue di bandara Charles de Gaulle setelah duduk berjam-jam. Dengan bermodalkan tas ransel raksasa dan tas selempang kecil gue siap menjelajahi Eropa! (2 negara aja sih~). Gue langsung menuju pintu 32 untuk naik bus (Le Bus Direct) ke pusat kota Paris, tepatnya di Montparnasse. Ketika itu jam menunjukkan pukul 17.30 dan temperatur 19 Celcius. Biasanya kalau di Indonesia, jam segitu langit masih bewarna lembayung. Namun di Paris, masih terang benderang karena matahari terbenam sekitar pukul 20.30 malam. Hal baru yang berkesan buat gue.

Tiket bus untuk perjalanan dari CDG ke Montparnasse bisa dibeli di loket tiket seharga 17 EURO. Dari bandara ke pusat kota, bus melewati jalur tol selatan kota Paris. “So, this is Paris”. Kebanyakan waktu gue habiskan untuk melamun dan mengobservasi keadaan dan destinasi baru ini, hal yang biasa gue lakukan saat traveling. Paris pun mulai menyala-nyala sepanjang jalan seiiring perjalanan gue. Bangunan-bangunan di kota Paris kebanyakan bernuansa baroque dengan warna pastel. Gaya restoran dengan beberapa kursi yang menghadap ke jalan adalah salah satu ciri unik restoran di Eropa, khususnya Prancis dan Italia (setidaknya ini yang gue alami selama disana). Keinginan untuk merekam semua memori visual bangunan dan jalanan Paris sepertinya tidak bisa gue lakukan karena jetlag. My eyes are so heavy. I need SLEEP. Sekitar 40 menit, gue sampe di stasiun Montparnasse, sekaligus tempat menginap gue di Paris selama beberapa hari ke depan. Teman gue yang namanya tidak dapat disebutkan (kita sebut saja Marie~) bersedia memberikan sofa di ruang tengahnya untuk gue hinggapi. Kebetulan ini pun juga menghemat pengeluaran akomodasi gue selama di Prancis (normalnya untuk penginapan berupa hostel/guesthouse minimal harus ngeluarin kocek Rp 300ribu-an)

26 Juni 2016 – First day of strolling around in Paris

Sensasi aneh dan menyenangkan – bangun pagi di tempat asing dan urgensi untuk eksplorasi. Pagi itu, gue diajarin cara buat kopi pake mesin kopi espresso yang cuma naroh 1 buah wadah ~kayak wadah jelly jaman dulu yang kecil~ di mesin lalu di-press. Keluarlah itu kopi dan gue rasakan. Enak nian~

Tidur dan kopi membantu mengurangi efek jetlag yang gue rasakan. Setelah sarapan, gue pun berdiskusi dengan Marie harus kemana saja hari ini. Kebetulan dia punya kartu langganan sepeda di Paris yang bisa kita pakai untuk berkeliling Paris. Kita pun menyusuri jalanan Paris di minggu pagi. Tujuan pertama kita adalah Notre Dame. Sepanjang jalan pun gue asyik melihat-lihat sekeliling. Rasa tidak percaya masih belum meninggalkan pikiran gue. Ini gue beneran lagi di Paris ya? Well, lamunan gue pecah ketika kita sampai di area dekat Notre Dame, Saint-Germain-des-Prés. Sesampainya disana, gue disambut oleh air mancur megah “Pont Saint Michel”. Patung Malaikat Michael yang sedang berdiri  dan seperti menghukum sesosok iblis menjadi simbol dari air mancur ini. Gereja terkenal dan salah satu objek wisata paling terkenal di Paris, Notre Dame tidak jauh dari Pont Saint Michel.

Antrian buat masuk ke Notre Dame ini panjaaaang banget. Tapi jangan sedih, meskipun panjang, antreannya lumayan cepat. Saat mengantri masuk, akan banyak pedagang souvenir berkeliaran. Yang paling banyak adalah pedagang gantungan kunci Menara Eiffel. Kalau kalian kesini, jangan lupa beli satu bundle 10 gantungan kunci seharga 2 Euro. Notre Dame dihiasi beragam karya seni luar biasa. Jendela kaca bewarna warni, Ukiran-ukiran di dinding mengenai sejarah Katolik, patung-patung yang berdiri menjaga tiap sudut ruangan dan pernak-pernik lainnya membuat gue kagum sangat. Kebetulan juga karena pada saat itu adalah hari Minggu, ada misa yang diadakan. Pengunjung dapat melihat-lihat isi gereja dan menyaksikan misa dalam waktu yang bersamaan. Asal jangan berisik! Meksipun ramai, kedamaian dapat tetap gue rasakan ketika masuk gereja ini. Sepertinya aura sejarah yang dimiliki gerja ini begitu kental sampai gue melupakan celoteh orang sekitar dan raungan histeris para turis yang ingin berfoto ria. Kalian juga bisa mendapatkan medal khusus dari Notre Dame yang dapat dibeli seharga 1 Euro. Medal ini berupa koin perunggu dengan ukuran lumayan besar dengan ukiran gereja Notre Dame. Lumayan kenang-kenangan sudah pernah kesini. Setelah menyaksikan kemegahan Notre Dame, kami lanjutkan perjalanan dengan sepeda mengelilingi area sekitarnya.

Le Marais yang penuh dengan gang-gang kecil bertaburan restoran, kafe, dan toko cinderamata yang bernuansa coklat muda dan krem. Gue sempatkan berfoto dengan sepeda di taman yang letaknya menjorok masuk dari muka gang.

Places de Vosges (Place Royale), distrik hunian paling mewah dan berkelas di Paris (setidaknya dari yang gue dengar) yang pernah ditinggali oleh beberapa aktor, penulis, dan seniman terkenal seperti Victor Hugo. Bangunan di Places de Vosges identikal dari atas ke bawah yang dicirikan dengan batu putih, batu bata merah, dan atap biru keabu-abuan. Area ini berbetuk segi empat dan simetrikal dengan taman besar di tengah. Destinasi wajib untuk merasakan kemewahan hunian kelas satu di Paris.

Sepeda merupakan salah satu cara mengelilingi distrik-distrik cantik di Paris tanpa harus merasakan kelelahan yang berarti. Sayangnya untuk menggunakan fasilitas ini, seseorang harus mempunyai kartu langganan sepeda (yang biasanya dimiliki oleh orang lokal). Untungnya teman Marie dengan baik hati meminjamkan kartunya buat gue!

Waktu menunjukan jam makan siang. Gue diajak oleh Marie ke sebuah restoran kecil (namanya Pinocchio) di dekat apartemennya dan disana kita akan makan bareng temannya. Kalau tidak salah waktu itu kita makan Bignettes de Mozzarella (semacam hidangan pembuka dengan melting chesse di dalamnya), Spaghetti al Pesto Rosso, dan sebotol anggur merah. Setelah makan siang, gue harus mengelilingi kota Paris seorang diri lagi karena Marie punya urusan kerjaan. Kemana? Ke menara paling terkenal di dunia, Eiffel!

Tiket metro di Paris dapat dibeli di mesin otomatis seharga 14,10 EURO untuk 1o tiket (kalau beli satuan lebih mahal). Temen gue, Arie menyarankan untuk menikmati menara Eiffel, ada baiknya pergi ke area bernama Trocadero. Dari sana kita bisa melihat Eiffel dari plaza di ketinggian tertentu. Dari area Trocadero, gue menyusuri taman-taman dan jalan menuju menara Eiffel. Banyak sekali pedagang cindramata berjualan dan segerombolan geng jalanan dengan trik atraksi jalanan payahnya berusaha menarik perhatian para turis. Untungnya sebelum ke Paris, gue banyak diwanti-wanti sama teman-teman gue soal scam yang merajalela di pusat wisata Paris, khususnya sekitar menara Eiffel. Salah satu yang paling keliatan adalah atraksi taruhan bola-ini-akan-muncul-di-gelas-mana yang biasanya ditandai dengan satu orang yang menaruh bola kecil di lantai dan menutupnya dengan gelas, lalu letaknya diputar-putar dengan 2 gelas lainnya. Apabila pengunjung berhasil menebak, akan mendapat hadiah. Kalau kalian lihat atraksi ini berlangsung dan ada yang “menang” taruhan, percayalah bahwa yang menang adalah komplotan mereka juga untuk memberikan “efek” bahwa pengunjung bisa menang mudah. Keliatannya sepele tapi ada juga yang kena jeratan muslihat mereka. So,  be a smart tourist! Jaga diri! Kalau didekati orang tidak dikenal, mending ngacir saja!

Menara Eiffel (La Tour Eiffel) berdiri megah seiiring gue berjalan mengelilinginya. Pasti akan lebih cantik ketika malam tiba, pikir gue, dengan lampu berkilauan di setiap rangkaian besinya. Antrian mengular dari para turis yang ingin naik ke bagian atas menara kelihatan mencolok. Anak-anak yang berlarian, tukang hotdog dan eskrim yang menjajakan jualan mereka, serta para satpam yang berkeliling mewarnai pemandangan Eiffel kali ini.

Sayup-sayup terdengar teriakan keras di sisi utara Eiffel. Orang-orang pun berlarian ke suatu titik teriakan tersebut. Karena penasaran, gue pun coba diam-diam mengikuti mereka dari belakang. Sepertinya seru. Gue lari kecil menuju area luas di bagian tenggara Eiffel, Champs de Mars. Gaungan terompet dan teput tangan melanda di seluruh penjuru, “GOALLL!!”. Oalah, memang saat itu adalah hari pertandingan antara Ireland V.S. France di ajang EURO 2016 dan kebetulan sekali saat pertandingan berlangsung diadakan nonton bersama di dekat menara Eiffel. Gue pun mencoba masuk tanpa ragu ke tengah kerumunan manusia berkeringat. Pengunjung dengan berbagai atribut seperti baju bola nasional Prancis, terompet, syal warna biru putih merah, cat bendera di muka, dan lainnya memenuhi satu lapangan besar dengan layar tancap raksasa di depan. Ketika gue sampai di tengah dan bisa melihat layar (dengan susah payah dan berdesakan, untung ga harus senggol bacok), waktu pertandingan menunjukan hampir menit ke 90. Ternyata beberapa menit sebelumnya Prancis berhasil menjebolkan satu goal untuk memastikan kemenangannya dalam laga kali ini dengan skor 2-1. Menit-menit berikutnya kebanyakan orang hanya bersahutan dan berharap agar skor tetap sama sampai akhir pertandingan. Ketika bunyi peluit panjang dari wasit melolong ciut, gemuruh teriakan dan luapan emosi para pengunjung menggelora di udara. Prancis menang atas Irlandia 2-1!! Pelukan-pelukan kecil antar pengunjung dan tepuk tangan serentak mewarnai detik-detik akhir laga kali ini. Momen langka seperti ini adalah salah satu hal yang asyik dan tidak terduga dalam perjalanan gue di Paris. Usai pertandingan, sebelum pengunjung membeludak di pintu keluar, gue buru-buru pergi meninggalkan Champs de Mars dan berjalan ke arah tenggara.

Cuaca Paris saat sore itu benar-benar apik. Langit sejernih kristal dan lipatan awan berkejaran di langit Paris. Matahari bersinar terang dan suhu yang tidak terlalu panas adalah pasangan sempurna yang menemani gue menikmati kompleks megah di sekitar Eiffel. Masih banyak teriakan warga Paris merayakan kemenangan Prancis, ntah dengan bernyanyi-nyanyi di pinggir jalan, atau dengan parade di sepanjang jalan dengan mengibarkan bendera Prancis. Beberapa pejalan kaki pun merespon parade tersebut dengan semangat. Gue menyusuri jalan dari Eiffel – Ecole Militarie – Avenue de Tourville menuju bangunan megah berkubah emas dengan taman cantik di ujung jalan, Musée de l’Armée. Seingat gue, untuk masuk area museum ini dan menikmati tamannya tidak dikenakan biaya sepeserpun. Museum ini pada memuat koleksi senjata perang dan makam Napoleon. Bangunan ini berbentuk segi empat dengan plaza luas di tengahnya. Kubah emas yang anggun mencolok langit merupakan primadona dari Musée de l’Armée. Tidak lupa gue mengabadikan kemegahannya dalam foto.

Gue meneruskan langkah kaki ke sebelah utara Musée de l’Armée, yaitu taman luas segi empat Invalides. Banyak warga lokal Paris yang menghabiskan waktu mereka bersama kerabat dan teman-teman disini. Canda tawa yang kedengaran dari segala penjuru, bola sepak yang hampir menghantam muka gue, dan anak-anak yang berlarian menemani langkah kaki gue melewati taman ini. Di ujung jalan, tampak jembatan Pont Alexander III yang megah dan cantik. Di sisi tiap jembatan, tersebar lampu-lampu coklat perunggu dengan ukiran yang cantik. Dan di sudut tiap jembatan terdapat patung bewarna emas. Wajar saja jembatan ini begitu cantik karena di ujung sebelah utaranya terdapat Le Grand Palais, galeri nasional dengan atap kaca berbingkai dan menjorok ke langit. Gue kepengen banget masuk, cuma karena waktu yang singkat, gue harus meneruskan perjalanan. Di sebelah timur Grand Palais, terdapat Place de la Concorde, plaza lebar dengan komedi putar bewarna putih. Sepertinya gue tidak sadar ketika itu, tapi plaza ini merupakan tempat eksekusi mati Raja Louis XVI pada tahun 1793.

Jam menunjukkan pukul 18.00 dan perut gue mulai berteriak. Saatnya kembali ke apartemen dan makan malam. Gue naik metro dari stasiun Assemblee Nationale ke Montparnasse. Tibanya di Montparnasse, pandangan gue dicuri oleh sebuah Patisserie (toko kue) dan membeli Tarte au Frambois, kue pai dengan strawberry dan selai diatasnya. Katanya sih kalau ke Paris, harus mencoba kue2 khas di toko kuenya. Dan memang betul, rasanya menggoncang nurani (lebhay) enak banget! yah meskipun harganya 30.000 rupiah untuk 1 biji yang tidak lebih besar dari genggaman tangan.

Gue pun lanjut makan malam di apartemen sambil mencari blablacar untuk pergi ke Rennes. Rennes adalah kota di Prancis barat yang merupakan hub menuju Dinan dan Mont Saint Michel. Setelah beres, baru gue akhiri aktivitas hari itu dengan bobo tampan karena besoknya harus bangun pagi-pagi untuk ketemu dengan blablacar ke Rennes.

Untuk keliling kota di Prancis atau Eropa pada umumnya, kalian bisa menggunakan kereta, bus, atau blablacar. Blablacar ini adalah jasa nebeng berbayar. Kalian tinggal cari orang yang mau pergi dari A ke B pada waktu yang paling cocok dengan kalian. Gue dapat tebengan seharga 20 EUR dari Paris ke Rennes sementara kalau naik kereta sekitar 40 EUR.

berlanjut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *